23 Feb

Hutan Nikmat 02

written by No Comments posted in Tak Berkategori

“Nah, enaknya aku mulai dari
mana nih?” tanyaku pada dia.
“Dari depan atau dari
belakang?” dia hanya bisa
mengeluarkan desahan sakit,
sambil mengeleng-gelengkan
kepalanya.
“Aku mulai dari depan aja ya?
Pasti lo masih perawan kan?”
Selesai berbicara begitu, aku
langsung mendorong cabang
pohon tadi masuk ke liang
kewanitaannya. Karena sempit
aku sampai harus melebarkan
bibir kemaluannya supaya
cabang tadi bisa masuk sedikit.
Dia merintih-rintih ketika cabang
tadi mulai masuk sedikit demi
sedikit. Aku terus mendorong
cabang tadi sambil memutar-
mutarnya. Dia langsung menjerit
kesakitan ketika kulakukan itu.
Itu yang aku ingin dengar dari
tadi, batang kemaluanku
langsung tegang sekali. Ketika
dia menjerit sekeras-kerasnya
aku merasa cabang pohon tadi
tidak bisa masuk lebih dalam
lagi. Lalu aku mulai menarik dan
mendorong cabang tadi sambil
memutar-mutarnya, yang pasti
akan membuat dia lebih
kesakitan kalau kudengar dari
jeritannya. Kepalanya
mengeleng-geleng sampai
terantuk-antuk ke batang pohon
tempat dia berbaring sampai
memohon aku agar aku
berhenti. Bodoh benar dia, tentu
saja aku tidak akan berhenti.
Setelah beberapa kali tusukan,
cabang pohon tadi mulai
berubah jadi merah, karena
darah yang keluar dari
kemaluannya. Ada juga yang
meleleh keluar dan mengalir
turun lewat pahanya. Aku terus
menusuk-nusuk liang
kemaluannya sampai sekitar 10
menit, sampai dia tidak bisa
mengerang hanya bisa
mendesah dan mengigit bibir
kesakitan. Kulihat ada darah
juga di sekitar bibirnya gara-
gara digigit terlalu keras
olehnya.
Akhirnya aku tidak bisa tahan
lagi, aku harus masukan batang
kemaluanku. Langsung saja
kubuka celanaku, kemaluanku
langsung bergoyang-goyang
tegang. Lalu kucabut cabang
pohon tadi dari liang
kemaluannya, kulihat bibir-bibir
kemaluannya langsung menutup
lagi, diiringi tarikan nafas anak
itu. Karena aku sudah tidak
tahan lagi, langsung saja
kubalikkan badannya yang
sudah lemah lunglai itu
sehingga pantatnya menghadap
ke arahku. Kubuka belahan
pantatnya, kulihat lubangnya
kecil sekali, wah dia akan
kesakitan kalau kumasukan
batang kemaluanku, tapi aku
tidak perduli, yang jelas aku
tidak bisa membayangkan
bagaimana nikmatnya jepitan
lubang itu. Sambil membuka
belahan pantatnya kuarahkan
kepala kemaluanku ke lubang
kecil tadi, lalu kupegang bahu
anak tadi erat-erat sambil mulai
mendorong masuk.
Ya ampun, sempit sekali, aku
sampai meringis-ringis, dia juga
mulai meronta-ronta begitu
sadar apa yang telah kukerjakan
di pantatnya. Tapi pelan-pelan,
lubang tadi mulai membuka
membuat batang kemaluanku
mulai masuk sampai kepala
kemaluanku dan terus maju
pelan-pelan. Ketika kudorong
kemaluanku, dia kembali
merintih-rintih seakan-akan
kehabisan nafas.
Akhirnya dengan dorongan
terakhir yang keras masuk juga
batang kemaluanku ke lubang
pantatnya. Lalu aku tidak
menunggu-nunggu lagi,
langsung saja aku maju mundur.
Aku tidak pelan-pelan lagi
sekarang, kugerakan pinggulku
cepat dan keras. Sampai badan
anak tadi terguncang-guncang,
terdorong maju mundur. Kulihat
dada dan perutnya mulai
berdarah-darah karena
bergesekan dengan kulit pohon
yang kasar. Lama-kelamaan
kemaluanku jadi kemerah-
merahan, selain gara-gara
sempit sekali, ada juga darah
yang menempel ke batang
kemaluanku. Sekitar 15 menit
kugerakan pinggulku, darah
yang keluar sudah ada di mana-
mana. Sampai meleleh turun
lewat pahanya ke tanah.
Aku merasa aku akan keluar
tidak lama lagi, begitu sudah
hampir puncaknya, aku
langsung mencabut kemaluanku
dan langsung kutarik rambut
anak itu. Dia langsung
mengerang sakit, dan saat itu
juga aku masukan kemaluanku
ke mulutnya yang terbuka. Dia
langsung tersengal-sengal
karena kemaluanku masuk
langsung masuk ke
kerongkongannya, membuatnya
sulit bernafas. Dia berusaha
menarik kepalanya tapi tidak
bisa, malah gara-gara
gerakannya itu dan gesekan
kemaluanku dengan lidahnya
aku tidak bisa menahan lagi.
Sambil mengerang kukeluarkan
spermaku ke mulutnya langsung
masuk lewat kerongkongan.
Kulihat dia melotot ketika ada
cairan ketal masuk ke dalam
kerongkongannya. Kutahan
kemaluanku di mulut anak itu
sampai sekitar satu menit,
sampai spermaku habis
kukeluarkan ke mulutnya, ada
juga yang kulihat meleleh keluar,
mengalir lewat dagu, leher dan
menempel di puting susunya.
Akhirnya kutarik kemaluanku
yang sudah mulai lemas dari
mulutnya. Dia langsung
tersungkur ke tanah dan
muntah-muntah mengeluarkan
isi perutnya.
“Dasar lu ****** tidak tau
barang enak!” kataku.
“Muka lu kotor tuh, aku bersiin
ya?” sambil berkata itu aku
langsung kencing ke mukanya,
air seniku membasahi seluruh
wajah, rambut sampai dadanya.
Langsung saja dia muntah-
muntah lagi sampai lemas tidak
berdaya, karena tidak ada lagi
yang bisa dikeluarkan dari
perutnya.
Jamku sudah menunjukan jam 2
pagi, ketika aku kembali
berpakaian. Aku hampiri dia
yang tergolek lemas, kulihat air
matanya mengalir terus
walaupun dia tidak
mengeluarkan suara tangisan.
“Lu mau lagi?” tanyaku.
Dia tidak bergerak hanya kulihat
wajahnya yang pucat bertambah
pucat lagi.
“Ah, tapi punya lu udah rusak
gara-gara ini. Aku jadi tidak
nafsu!” kataku.
“Lain kali aja deh!” kataku
sambil menunjukan cabang
pohon yang berlumuran darah
ke wajahnya.
Setelah selesai aku berbicara itu,
langsung saja kupukul dadanya
pakai cabang pohon yang
kupegang, kupukul
punggungnya, pahanya,
kemaluannya. Kadang juga
kutendang perutnya sampai dia
tidak bergerak lagi, matanya
melotot ngeri. Kuraba nadinya,
ternyata masih ada denyutan.
Aku langsung berdiri dan
berjalan meninggalkan dia
keluar hutan. Aku tidak peduli
mau ada yang menemukan dia
atau tidak, kalau dia tidak kuat
dia bakalan mati juga. Lagipula
siang nanti aku mau ke Jepang,
jadi tidak ada yang bisa
menemukan aku.
TAMAT


Tags :
No Responses to “Hutan Nikmat 02”

Leave a Reply